Lorong Gelap
Oleh : Elsima
Nainggolan
Dilorong
gelap dekat laboratorium Kimia itu selalu menjadi momok mengerikan bagi seluruh
mahasiswa yang melewatinya. Dia adalah nama yang tidak bisa disebut, konon
adalah seorang korban dari penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan sadis yang
menguliti, mencincang serta meletakkan potongan mayat itu dalam sebuah plastik
hitam besar ditepian lorong itu.
Sa,
seharusnya kita tadi langsung pulang ajahlah. Kan bisa sih besok kita ambil jas
labnya daripada sekarang. Udah jam 6 ini Sa” ajak Meri yang berlari kecil menyusul Elisa yang sudah menuju Lab itu.
“Kenapa
emangnya kalau jam 6?” ditanya balik oleh Meri dengan logat bataknya yang khas
di Sumatera Utara. Elisa adalah seorang
gadis yang tidak percaya dengan apapun yang berhubungan dengan hantu dan kawan-kawannya.
Ia menganggap bahwa manusia bisa lebih kejam dari hantu dan lebih mengerikan
pastinya.
“’Ihhh,
makanya jangan bersemedi di Perpustakaan ajah Sa. Kumpul sekali-sekali di
Basecamp jurusan dengar cerita-cerita horor dilab kita ini” jawab Meri dengan
sangat kesalnya sambil menendang kaleng bekas yang ada didepannya. Langkah
Elisa dan Meri terhenti bersamaan dengan kaleng tersebut yang dilempar balik
tepat dihadapan mereka. Mereka pun saling bertatapan satu sama lain seperti
sedang bertelepati. Elisa tetap tenang
dan santai sedangkan Meri sudah mulai menangis.
“ELISA!!!!!!!
AYO PULANGG, AKU TAKUT” teriak Meri disertai dengan tangisannya menarik-narik
lengan Elisa supaya mau meninggalkan tempat itu. Elisa pun merasa iba melihat
Meri yang sudah menangis dengan sesegukan menarik tangannya. Bukan karena Ia
takut malah Ia semakin gigih dan penasaran akan apa, siapa dan bagaimana
peristiwa tadi bisa terjadi sedangkan sudah terlalu Sore untuk mahasiswa ada
dikawasan Lab.
“Yaudah,
ayo kita pulang. Besok ajah kita ambil jas labnya” ucap Elisa menenangkan Meri
yang masih terisak sambil menarik tangannya untuk bergegas meninggalkan tempat
itu. Mereka pun berjalan meninggalkan lorong dan melupakan kejadian itu.
No comments:
Post a Comment