Search This Blog

Thursday, September 10, 2020

Cerita Pendek ( CERPEN) Perpisahan

 



Lyam dan Lian

Oleh : Elsima Nainggolan

Gelapnya hari sudah menandakan untuk Lia, Lyam dan semua mahasiswa yang masih berada di laboratorium itu untuk pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Terlihat setiap orang diruangan gelap itu sedang mengemasi seluruh perlengkapan dan alat-alat mereka tak terkecuali Lian dan Lyam.

 “Lym, kamu jadikan main ketempatku?” tanya Lian kepada Lyam dengan mata yang berbinar-binar berharap Lyam mengabulkan keinginannya. Lyam adalah seorang sahabat yang sangat baik kepada Lian. Ia akan selalu mengabulkan keinginan Lian walaupun Ia tidak sanggup melakukannya.

Ia Yan, untuk kamu apa yang enggak.” Tukas Lyam dengan mencubit pipi Chubby Lian dengan gemas sambil menarik lengannya untuk menaiki motor Lyam yang telah usang itu. Yan adalah panggilan kesayangan untuk Lian dari Lyam. Mereka sekarang menjadi mahasiswa semester 5 dijurusan Kimia di Universitas Negeri Medan.   

Rumah mereka hanyalah berjarak 100 Meter sehingga mereka sering menginap bersama dan bermain bersama. Lian dengan segala kekurangannya dan Lyam dengan segala kekurangannya saling mengisi dan melengkapi. Lian dan Lyam adalah anak yatim-piatu. Orangtua mereka telah lama meninggal dalam sebuah tragedi naas yaitu kebakaran kantor tempat orangtua mereka bekerja.  

Lian dan Lyam terlihat bersama-sama sampai seluruh mahasiswa dijurusan Kimia itu tidak heran lagi.  Bahkan banyak yang mendukung mereka untuk berpacaran.  Sampai suatu saat, ada mahasiswa baru yang sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa melirik Lian dan terlihat Ia tertarik pada Lian.  Lyam menyadari itu. Selama proses pembelajaran Kimia Organik III itu, Lyam melihat pria itu dengan mata yang tajam seolah ingin memangsanya.

“Hai, perkenalkan saya Rizky Ananda dari Universitas Negeri Padang.” kata mahasiswa program pertukaran itu menghampiri tempat duduk Lian dengan tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada Lian untuk bersalaman. Seketika kelas yang ribut mendadak merasakan atmosfer yang sangat mencekam. Selain sifat Lyam yang pendiam, dia juga tidak segan-segan menghajar bagi siapapun yang menggangu dan mengusik wanitanya. Aneh bukan. Hal itu juga sudah diketahui semua mahasiswa dijurusan itu.

Lian seketika menjulurkan tangannya untuk bersalaman sambil tersenyum manis dan Lyam yang melihatnya terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa.

“Hallo juga, saya Lian Agustia, mahasiswa Kimia di Kampus ini.”jawab Lian. Lian dan Rizky terus bercerita, sharing mengenai kegiatan mereka dan bertukar nomor Whatsapp.  Tidak disadari oleh Lian, Lyam memandangi mereka dengan mata yang tajam dan rasa yang tidak karuan.

“Ayo Yan, kita pulang. Udah jam 5.” ajak Lyam dengan tegas sambil menarik lengan Lian untuk pergi dari ruangan itu.

“Aku pulang dulu ya Ky!!” teriak Lian dari kejauhan kepada Rizky yang masih termenung di tempat itu. Lyam yang mendengar itu, seketika menghempaskan tangan Lian dan berkata,

“ Gak usah kegatalan jadi cewek. Kamu gak tau dia siapa, dia bagaimana. Bisa tidak kamu jangan bicara dengan cowok kurang ajar itu?” Mendengar bentakan dari Lyam menjadi heran dan sedih. Sebab, Lyam tidak pernah memarahinya. Lian menganggap Lyam seperti abang, sahabatnya dan orang yang akan selalu ada dihidupnya.

“Lym, kamu kok jadi kasar?. Lagian, itu hakku mau berteman dengan siapa. Kamu jangan berlebihan. !!” tegas Lian sembari berlari meninggalkan Lyam yang tetap berdiri ditempat itu. Seakan Ia lupa cara untuk berjalan dan dadanya seperti tertusuk pisau yang paling tajam diseluruh belahan bumi. Tak sadar, air matanya menetes melihat kepergian Lian. Betul, Lyam adalah pria yang tak sekuat yang dibayangkan. Ia bisa bersedih, tertawa, terdiam. Untuk kedua kalinya Ia menangis setelah kepergian orangtuanya.

Brummm, brummm, brummm. Suara motor menderu di sampingnya dan pengendara itu adalah pria yang seketika menjadi musuhnya. Ia berhenti dan mengejek Lyam.“ Cie, Friendzone ya? Kasihan banget. Hahhahah “ ejek Rizky kepada Lyam sambil meninggalkan Lyam.  Lyam terdiam dan melihat kearah gerbang. Semakin Ia ditampar oleh kenyataan pahit. Wanitanya pergi bersama Rizky dan untuk pertama kalinya mereka tidak pulang bersama.

Lyam berlari dan sesegera mungkin mengendarai motornya untuk mengikuti motor Rizky yang membawa Lyam. Walaupun dia sedang sakit hati tetapi rasa kepeduliannya masih menggelora untuk melindungi Lian. Ternyata, kecurigaan Lyam tidak terbukti dan benar saja. Lian diantar sampai rumahnya dan Lian tersenyum manis kepada Rizky dan Rizky mengelus kepala Lian dengan lembutnya. Lyam yang melihat kejadian itu, seketika merasakan sesak, dadanya seakan ditimpa beton 50 Kg, jantungnya terhenti berdetak, Ia meremas kepalanya karena sakit yang luar biasa dan Ia memejamkan matanya. Ketika Ia membuka matanya, telah ada gadis muda yang berdiri disebelah motornya dan tersenyum.

“Hai, perkenalkan aku Lucy. Aku adalah anak yatim piatu dan tinggal di lingkungan perumahan ini juga loh. Hayo, kamu ngintip apaan? “ kata gadis itu kepada Lyam. Lyam merasa terhibur sedikit dengan ucapan Lucy yang sedikit menenangkan hatinya.

Di tempat lain, ada pria yang sedang mengawasi Lyam dari CCTV depan rumahnya dan terheran-heran dengan tingkah Lyam.

Hari silih berganti dan tidak ada lagi Lian dan Lyam yang bersama. Saat ini, hanya ada Lian dan Rizky serta Lyam dan Lucy. Mereka sedang bersama-sama dikantin. Anehnya, Lian terus menatap Lyam yang semakin hari semakin menjauh darinya dan Lian yang sedang tertawa bahagia. Lyam menjadi pria penyendiri dan tidak ada lagi  dikelas ataupun mahasiswa dijurusannya yang menyapa Lyam lagi.

Lian terlambat. Seseorang akan merasa kehilangan yang mendalam jika Ia benar-benar pergi. Lian menyesali itu. Ia merasakan hidupnya hampa tanpa Lyam. Rizky hanya menganggap Lian sebagai adik, karena Lian begitu mirip dengan Almarhum adiknya. Rizky juga akan segera balik kekampusnya karena masa programnya hanyalah satu bulan saja.

Lian bertekad akan menemui Lyam sepulang kampus nanti. Mengingatkannya dan menyadarkan Lyam kembali.  Di parkiran motor, Lian memanggili Lyam dan Lyam mendengar itu tetapi Ia mengacuhkannya. Sampai Lian menghadang motornya yang hendak pergi dengan melebarkan tangannya didepan motornya.

“Aku mau bicara Lym, please”ujar Lian lembut dan hati kecil Lyam ingin sekali mendengarnya tetapi Lucy terus membisikkan agar Lyam segera meninggalkan Lian karena Ia pernah meninggalkan Lyam.  

Lyam pun hanya terdiam menatap mata Lian dengan mengerikan. Seketika, Lian menangis dan berlari pergi meninggalkan Lyam. Air mata itu, Lyam masih melihatnya dengan jelas. Dan Ia kembali goyah, Ia tidak bisa melihat Lian menangis. Lagi dan lagi, hasutan dari Lucy kembali mengambil alih pikirannya untuk tidak menyusul Lian.

Lian menangis dan menenggelamkan wajahnya ditekukan lututnya. Ia sekarang berada didepan taman komplek perumahannya. Berharap Lyam pergi menemuinya dan ternyata Lyam tidak menyusulnya.  Tiba-tiba, ada suara yang membuat Lian berhenti menangis. Suara pria, Ia berharap itu adalah Lyam, secepat mungkin ia mendongakkan kepalanya untuk melihat dan ternyata bukan.

“Hai, gak baik loh. Wanita menangis disiang bolong gini. Nanti ada, kuntilanak  loh, By the way, kenalin saya Arya. Saya tinggal dikomplek ini juga loh. Malah kita bertetanggaan.  Saya seorang dokter dan psikiater di RS Cahaya didekat kota itu loh.” Jelas Dokter itu kepada Lian dan Lian semakin tertarik untuk mendengarkan ocehannya. Mereka pun membicarakan sesuatu yang sangat penting.

Sepulang kampus, Lyam melihat Lian pulang bersama seorang pria dan Lyam merasakan api cemburu yang lagi-lagi membakar hatinya. Lucy menghasut untuk tidak membiarkan Lyam kembali pada Lian. Karena Lucy hadir dari rasa sakit hati itu. Ia tidak mau pergi dari Lyam. Sungguh egois.  Hari berlalu, bulan berganti. Lian tetap berpergian bersama Dokter Arya untuk menyadarkan Lyam atas perasaanya dan menghilangkan Lucy.  Lyam semakin tidak karuan memaksakan dirinya untuk mengunjungi rumah Lian karena mereka sedang libur kuliah selama tiga bulan. Lucy mencegahnya dan mengancam dirinya akan menyayatkan pisau dinadinya.

Lucy semakin menjadi-jadi. Ia juga sering mengunjungi rumah Lyam dan selalu bersama Lyam saat Ia beraktivitas diluar. Melihat tingkah Lucy, Lyam mengalah, Ia melangkahkan kakinya kekamarnya dan menghempaskan badannya dikasurnya mengingat kembali kenangan manisnya bersama Lian. Ya, Lyam sangat merindukan Lian. Ia tertidur sambil memeluk boneka Vampir pemberian Lian saat ulang tahunnya.

Di rumah Dokter Arya, Lian terlihat menangis karena Ia sudah tidak tahan akan sikap Lyam. Ia menangis seharian dan Dokter Arya bingung untuk menenangkan Lian. Suasana hening berubah menjadi menegangkan saat Lian tidak bisa bernafas dan pingsan. Seketika itu, Dokter Arya segera membawa Lian menuju RS dengan mobil Pajero miliknya.

Dari luar kaca ruangan Lian dirawat, air mata Dokter Arya menetes melihat keadaan lemah Lian. Ia kembali mengingat perkataan dokter yang menangani Lian tadi. Dokter itu mengatakan bahwa Lian punya kelainan jantung. Dokter Arya berlari menuju mobilnya dan bergegas menemui Lyam.  Lyam adalah harapan Lian terakhir.  “Lyam, saya tau kamu masih peduli dengan Lian. Sekarang, Lian ada dirumah sakit dan Ia tidak akan lama lagi. Penyakit jantungnya semakin parah. Saya tahu, kamu bisa melawan rasa sakitmu. Dia adalah dirimu. Dia tercipta karena rasa sakitmu. Dia hanyalah bayanganmu. Apakah kamu mau kehilangan Lian karena Lucy?” tegas Dokter Arya. Lyam semakin tidak karuan dan tanpa Ia sadari air matanya menetes mengetahui keadaan Lian sekarang. Ia mulai tersadar, Ia berkelahi dengan Lucy. Adu mulut, karena Lucy tidak membiarkan Lyam pergi atau dia akan menyayat dirinya sendiri.

“Aku adalah kamu, kamu adalah Aku. Kamu tidak bisa hidup tanpa aku Lyam. Atau kita akan mati bersama” kata Lucy sambil mengarahkan pisau ketangannya.

“Lawan dia Lyam demi Lian” tukas Dokter Arya dengan pelan untuk menyentuh hati kecil Lyam.  Lyam sontak berteriak dan memaki Lucy.

“betul, Kamu adalah Aku. Aku adalah Kamu. Tapi, tubuh kita akulah yang mengendalikannya.”  Lyam memfokuskan dirinya untuk tidak terhasut oleh Lucy dan akhirnya Ia berhasil. Ditangannya sekarang telah ada pisau yang dipegang Lucy dan Ia sontak melukai tangannya untuk menghilangkan Lucy.

Lucy pun berlari untuk mengambil pisau itu dan naas, Lyam berhasil menggoreskan tangannya dengan pisau itu sampai darah tercucur ke lantai keramik rumah Lyam. Lucy pun menghilang dan mereka bergegas berlari menemui Lian di Rumah Sakit.

Dokter Arya tersenyum melihat Lyam yang berpelukan dengan Lian diruangannya. Lian seketika sadar akan kehadiran Lyam disisinya. Dokter Arya sedari awal sudah mengetahui Lucy dan penyebab kemunculan Lucy. Lyam saat itu, sedang mengikuti Lian dan bersembunyi didepan pagar Dokter Arya yang terdapat CCTV. Oleh karena itu, Dokter Arya menemui Lian.

Cinta tidak harus memiliki, cinta dinyatakan oleh perbuatan bukan dari sekedar omongan belaka. Lian yang semakin parah dengan keadaannya kembali pingsan dipelukan Lyam.  Lyam sudah mengambil keputusan dan sudah siap menjalaninya. Tujuh  hari kemudian. Lian terbangun dari koma yang dilewatinya.

Ia mencari keberadaan Lyam. Dokter Arya yang berada diruangan Lian memberikan surat kepadanya. Seketika, Lian menangis kencang dan memukuli dadanya. Ia berteriak memanggili Lyam. Ia tidak bisa kehilangan Lyam. Dokter Arya pun menenangkan dan memeluk Lian.

“ Lyam sudah tenang disana. Dia sudah merelakan hidupnya untukmu Lian. Jangan pernah kecewakan Lyam sekarang Ia berada dinafasmu Lian” nasehat Dokter Arya dengan tenang.

“ Saya menyesal dok. Saya belum sempat bilang ke Lyam bahwa aku sangat mencintainya dok” teriak Lian sambil menangis dan ia memeluk erat kertas terakhir yang dituliskan Lyam kepadanya. 

                                      


Untukmu wanitaku,

Yan, kamu harus makan teratur ya, jaga pola tidur dan jangan begadang nonton drakor ya. Ingat gak, kamu tidak bisa tidur kalau hujan dan gelap  dan aku selalu hadir menemanimu Lian. Rasa ini terlambat untuk diakui. Aku sangat mencintaimu Lian melebihi dari seorang sahabat dan adik. Aku ingin kita bersanding di depan Altar dan hidup menua dengan cucu-cucu kita. Tapi, kenyataan berbeda dengan harapanku. Walaupun, aku tidak lagi bisa menemanimu lagi Lian tapi aku selalu ada disetiap nafasmu, disetiap denyut nadimu. Jaga diri dan berbahagialah bersama Dokter Arya, Lian. Aku sangat mencintaimu Lian.

Lyam Areka.




-----------------------------------------------------------Tamat--------------------------------------------------------

Sumber gambar : Kompasian.com, terminalduatiga.blogspot.com


No comments:

Post a Comment

Tabel Periodik : Sejarah, Daftar Dobereiner Dan Newlands, Hukum Oktaf Newlands, Daftar Mendeleyev, Nomor Atom Dan Hukum Periodik, Sistem Periodik Modern, dan Klasifikasi Unsur-unsur

  HAI HAI HI , Apa kabar sobat?. Semoga tetap dalam keadaan santuy dan baik-baik ajah ya. Nah, kali ini kita akan membahas materi kimia lagi...