Lyam dan Lian
Oleh : Elsima Nainggolan
Gelapnya hari sudah menandakan untuk Lia, Lyam dan semua mahasiswa yang masih berada di laboratorium itu untuk pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Terlihat setiap orang diruangan gelap itu sedang mengemasi seluruh perlengkapan dan alat-alat mereka tak terkecuali Lian dan Lyam.
“Lym, kamu jadikan main ketempatku?” tanya
Lian kepada Lyam dengan mata yang berbinar-binar berharap Lyam mengabulkan
keinginannya. Lyam adalah seorang sahabat yang sangat baik kepada Lian. Ia akan
selalu mengabulkan keinginan Lian walaupun Ia tidak sanggup melakukannya.
Ia Yan, untuk kamu apa yang enggak.” Tukas Lyam dengan mencubit pipi Chubby Lian dengan gemas sambil menarik lengannya untuk menaiki motor Lyam yang telah usang itu. Yan adalah panggilan kesayangan untuk Lian dari Lyam. Mereka sekarang menjadi mahasiswa semester 5 dijurusan Kimia di Universitas Negeri Medan.
Rumah mereka hanyalah berjarak 100 Meter sehingga mereka sering menginap bersama dan bermain bersama. Lian dengan segala kekurangannya dan Lyam dengan segala kekurangannya saling mengisi dan melengkapi. Lian dan Lyam adalah anak yatim-piatu. Orangtua mereka telah lama meninggal dalam sebuah tragedi naas yaitu kebakaran kantor tempat orangtua mereka bekerja.
Lian
dan Lyam terlihat bersama-sama sampai seluruh mahasiswa dijurusan Kimia itu
tidak heran lagi. Bahkan banyak yang
mendukung mereka untuk berpacaran. Sampai suatu saat, ada mahasiswa baru yang
sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa melirik Lian dan terlihat Ia
tertarik pada Lian. Lyam menyadari itu. Selama
proses pembelajaran Kimia Organik III itu, Lyam melihat pria itu dengan mata
yang tajam seolah ingin memangsanya.
“Hai,
perkenalkan saya Rizky Ananda dari Universitas Negeri Padang.” kata mahasiswa
program pertukaran itu menghampiri tempat duduk Lian dengan tersenyum sambil
mengulurkan tangannya kepada Lian untuk bersalaman. Seketika kelas yang ribut
mendadak merasakan atmosfer yang sangat mencekam. Selain sifat Lyam yang
pendiam, dia juga tidak segan-segan menghajar bagi siapapun yang menggangu dan
mengusik wanitanya. Aneh bukan. Hal itu juga sudah diketahui semua mahasiswa
dijurusan itu.
Lian
seketika menjulurkan tangannya untuk bersalaman sambil tersenyum manis dan Lyam
yang melihatnya terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa.
“Hallo
juga, saya Lian Agustia, mahasiswa Kimia di Kampus ini.”jawab Lian. Lian dan
Rizky terus bercerita, sharing mengenai kegiatan mereka dan bertukar nomor
Whatsapp. Tidak disadari oleh Lian, Lyam
memandangi mereka dengan mata yang tajam dan rasa yang tidak karuan.
“Ayo
Yan, kita pulang. Udah jam 5.” ajak Lyam dengan tegas sambil menarik lengan
Lian untuk pergi dari ruangan itu.
“Aku
pulang dulu ya Ky!!” teriak Lian dari kejauhan kepada Rizky yang masih
termenung di tempat itu. Lyam yang mendengar itu, seketika menghempaskan tangan
Lian dan berkata,
“
Gak usah kegatalan jadi cewek. Kamu gak tau dia siapa, dia bagaimana. Bisa
tidak kamu jangan bicara dengan cowok kurang ajar itu?” Mendengar bentakan dari
Lyam menjadi heran dan sedih. Sebab, Lyam tidak pernah memarahinya. Lian
menganggap Lyam seperti abang, sahabatnya dan orang yang akan selalu ada
dihidupnya.
“Lym,
kamu kok jadi kasar?. Lagian, itu hakku mau berteman dengan siapa. Kamu jangan
berlebihan. !!” tegas Lian sembari berlari meninggalkan Lyam yang tetap berdiri
ditempat itu. Seakan Ia lupa cara untuk berjalan dan dadanya seperti tertusuk
pisau yang paling tajam diseluruh belahan bumi. Tak sadar, air matanya menetes
melihat kepergian Lian. Betul, Lyam adalah pria yang tak sekuat yang
dibayangkan. Ia bisa bersedih, tertawa, terdiam. Untuk kedua kalinya Ia
menangis setelah kepergian orangtuanya.
Brummm,
brummm, brummm. Suara motor menderu di sampingnya dan pengendara itu adalah
pria yang seketika menjadi musuhnya. Ia berhenti dan mengejek Lyam.“ Cie,
Friendzone ya? Kasihan banget. Hahhahah “ ejek Rizky kepada Lyam sambil
meninggalkan Lyam. Lyam terdiam dan
melihat kearah gerbang. Semakin Ia ditampar oleh kenyataan pahit. Wanitanya
pergi bersama Rizky dan untuk pertama kalinya mereka tidak pulang bersama.
Lyam
berlari dan sesegera mungkin mengendarai motornya untuk mengikuti motor Rizky
yang membawa Lyam. Walaupun dia sedang sakit hati tetapi rasa kepeduliannya
masih menggelora untuk melindungi Lian. Ternyata, kecurigaan Lyam tidak
terbukti dan benar saja. Lian diantar sampai rumahnya dan Lian tersenyum manis
kepada Rizky dan Rizky mengelus kepala Lian dengan lembutnya. Lyam yang melihat
kejadian itu, seketika merasakan sesak, dadanya seakan ditimpa beton 50 Kg,
jantungnya terhenti berdetak, Ia meremas kepalanya karena sakit yang luar biasa
dan Ia memejamkan matanya. Ketika Ia membuka matanya, telah ada gadis muda yang
berdiri disebelah motornya dan tersenyum.
“Hai,
perkenalkan aku Lucy. Aku adalah anak yatim piatu dan tinggal di lingkungan
perumahan ini juga loh. Hayo, kamu ngintip apaan? “ kata gadis itu kepada Lyam.
Lyam merasa terhibur sedikit dengan ucapan Lucy yang sedikit menenangkan
hatinya.
Di
tempat lain, ada pria yang sedang mengawasi Lyam dari CCTV depan rumahnya dan
terheran-heran dengan tingkah Lyam.
Hari
silih berganti dan tidak ada lagi Lian dan Lyam yang bersama. Saat ini, hanya
ada Lian dan Rizky serta Lyam dan Lucy. Mereka sedang bersama-sama dikantin.
Anehnya, Lian terus menatap Lyam yang semakin hari semakin menjauh darinya dan
Lian yang sedang tertawa bahagia. Lyam menjadi pria penyendiri dan tidak ada
lagi dikelas ataupun mahasiswa
dijurusannya yang menyapa Lyam lagi.
Lian
terlambat. Seseorang akan merasa kehilangan yang mendalam jika Ia benar-benar
pergi. Lian menyesali itu. Ia merasakan hidupnya hampa tanpa Lyam. Rizky hanya
menganggap Lian sebagai adik, karena Lian begitu mirip dengan Almarhum adiknya.
Rizky juga akan segera balik kekampusnya karena masa programnya hanyalah satu
bulan saja.
Lian
bertekad akan menemui Lyam sepulang kampus nanti. Mengingatkannya dan
menyadarkan Lyam kembali. Di parkiran
motor, Lian memanggili Lyam dan Lyam mendengar itu tetapi Ia mengacuhkannya.
Sampai Lian menghadang motornya yang hendak pergi dengan melebarkan tangannya
didepan motornya.
“Aku
mau bicara Lym, please”ujar Lian lembut dan hati kecil Lyam ingin sekali
mendengarnya tetapi Lucy terus membisikkan agar Lyam segera meninggalkan Lian
karena Ia pernah meninggalkan Lyam.
Lyam
pun hanya terdiam menatap mata Lian dengan mengerikan. Seketika, Lian menangis
dan berlari pergi meninggalkan Lyam. Air mata itu, Lyam masih melihatnya dengan
jelas. Dan Ia kembali goyah, Ia tidak bisa melihat Lian menangis. Lagi dan
lagi, hasutan dari Lucy kembali mengambil alih pikirannya untuk tidak menyusul
Lian.
Lian
menangis dan menenggelamkan wajahnya ditekukan lututnya. Ia sekarang berada
didepan taman komplek perumahannya. Berharap Lyam pergi menemuinya dan ternyata
Lyam tidak menyusulnya. Tiba-tiba, ada
suara yang membuat Lian berhenti menangis. Suara pria, Ia berharap itu adalah
Lyam, secepat mungkin ia mendongakkan kepalanya untuk melihat dan ternyata
bukan.
“Hai,
gak baik loh. Wanita menangis disiang bolong gini. Nanti ada, kuntilanak loh, By
the way, kenalin saya Arya. Saya tinggal dikomplek ini juga loh. Malah kita
bertetanggaan. Saya seorang dokter dan
psikiater di RS Cahaya didekat kota itu loh.” Jelas Dokter itu kepada Lian dan
Lian semakin tertarik untuk mendengarkan ocehannya. Mereka pun membicarakan
sesuatu yang sangat penting.
Sepulang
kampus, Lyam melihat Lian pulang bersama seorang pria dan Lyam merasakan api
cemburu yang lagi-lagi membakar hatinya. Lucy menghasut untuk tidak membiarkan
Lyam kembali pada Lian. Karena Lucy hadir dari rasa sakit hati itu. Ia tidak
mau pergi dari Lyam. Sungguh egois. Hari
berlalu, bulan berganti. Lian tetap berpergian bersama Dokter Arya untuk
menyadarkan Lyam atas perasaanya dan menghilangkan Lucy. Lyam semakin tidak karuan memaksakan dirinya
untuk mengunjungi rumah Lian karena mereka sedang libur kuliah selama tiga
bulan. Lucy mencegahnya dan mengancam dirinya akan menyayatkan pisau dinadinya.
Lucy
semakin menjadi-jadi. Ia juga sering mengunjungi rumah Lyam dan selalu bersama
Lyam saat Ia beraktivitas diluar. Melihat tingkah Lucy, Lyam mengalah, Ia
melangkahkan kakinya kekamarnya dan menghempaskan badannya dikasurnya mengingat
kembali kenangan manisnya bersama Lian. Ya, Lyam sangat merindukan Lian. Ia
tertidur sambil memeluk boneka Vampir pemberian Lian saat ulang tahunnya.
Di
rumah Dokter Arya, Lian terlihat menangis karena Ia sudah tidak tahan akan
sikap Lyam. Ia menangis seharian dan Dokter Arya bingung untuk menenangkan
Lian. Suasana hening berubah menjadi menegangkan saat Lian tidak bisa bernafas
dan pingsan. Seketika itu, Dokter Arya segera membawa Lian menuju RS dengan
mobil Pajero miliknya.
Dari
luar kaca ruangan Lian dirawat, air mata Dokter Arya menetes melihat keadaan
lemah Lian. Ia kembali mengingat perkataan dokter yang menangani Lian tadi.
Dokter itu mengatakan bahwa Lian punya kelainan jantung. Dokter Arya berlari
menuju mobilnya dan bergegas menemui Lyam.
Lyam adalah harapan Lian terakhir. “Lyam, saya tau kamu masih peduli dengan Lian.
Sekarang, Lian ada dirumah sakit dan Ia tidak akan lama lagi. Penyakit
jantungnya semakin parah. Saya tahu, kamu bisa melawan rasa sakitmu. Dia adalah
dirimu. Dia tercipta karena rasa sakitmu. Dia hanyalah bayanganmu. Apakah kamu
mau kehilangan Lian karena Lucy?” tegas Dokter Arya. Lyam semakin tidak karuan
dan tanpa Ia sadari air matanya menetes mengetahui keadaan Lian sekarang. Ia
mulai tersadar, Ia berkelahi dengan Lucy. Adu mulut, karena Lucy tidak
membiarkan Lyam pergi atau dia akan menyayat dirinya sendiri.
“Aku
adalah kamu, kamu adalah Aku. Kamu tidak bisa hidup tanpa aku Lyam. Atau kita
akan mati bersama” kata Lucy sambil mengarahkan pisau ketangannya.
“Lawan
dia Lyam demi Lian” tukas Dokter Arya dengan pelan untuk menyentuh hati kecil
Lyam. Lyam sontak berteriak dan memaki
Lucy.
“betul,
Kamu adalah Aku. Aku adalah Kamu. Tapi, tubuh kita akulah yang
mengendalikannya.” Lyam memfokuskan
dirinya untuk tidak terhasut oleh Lucy dan akhirnya Ia berhasil. Ditangannya
sekarang telah ada pisau yang dipegang Lucy dan Ia sontak melukai tangannya
untuk menghilangkan Lucy.
Lucy
pun berlari untuk mengambil pisau itu dan naas, Lyam berhasil menggoreskan
tangannya dengan pisau itu sampai darah tercucur ke lantai keramik rumah Lyam.
Lucy pun menghilang dan mereka bergegas berlari menemui Lian di Rumah Sakit.
Dokter
Arya tersenyum melihat Lyam yang berpelukan dengan Lian diruangannya. Lian
seketika sadar akan kehadiran Lyam disisinya. Dokter Arya sedari awal sudah
mengetahui Lucy dan penyebab kemunculan Lucy. Lyam saat itu, sedang mengikuti
Lian dan bersembunyi didepan pagar Dokter Arya yang terdapat CCTV. Oleh karena
itu, Dokter Arya menemui Lian.
Cinta
tidak harus memiliki, cinta dinyatakan oleh perbuatan bukan dari sekedar
omongan belaka. Lian yang semakin parah dengan keadaannya kembali pingsan
dipelukan Lyam. Lyam sudah mengambil
keputusan dan sudah siap menjalaninya. Tujuh
hari kemudian. Lian terbangun dari koma yang dilewatinya.
Ia
mencari keberadaan Lyam. Dokter Arya yang berada diruangan Lian memberikan
surat kepadanya. Seketika, Lian menangis kencang dan memukuli dadanya. Ia
berteriak memanggili Lyam. Ia tidak bisa kehilangan Lyam. Dokter Arya pun
menenangkan dan memeluk Lian.
“
Lyam sudah tenang disana. Dia sudah merelakan hidupnya untukmu Lian. Jangan
pernah kecewakan Lyam sekarang Ia berada dinafasmu Lian” nasehat Dokter Arya
dengan tenang.
“
Saya menyesal dok. Saya belum sempat bilang ke Lyam bahwa aku sangat
mencintainya dok” teriak Lian sambil menangis dan ia memeluk erat kertas
terakhir yang dituliskan Lyam kepadanya.
Untukmu wanitaku,
Yan, kamu harus makan teratur ya,
jaga pola tidur dan jangan begadang nonton drakor ya. Ingat gak, kamu tidak
bisa tidur kalau hujan dan gelap dan aku
selalu hadir menemanimu Lian. Rasa ini terlambat untuk diakui. Aku sangat
mencintaimu Lian melebihi dari seorang sahabat dan adik. Aku ingin kita
bersanding di depan Altar dan hidup menua dengan cucu-cucu kita. Tapi,
kenyataan berbeda dengan harapanku. Walaupun, aku tidak lagi bisa menemanimu lagi
Lian tapi aku selalu ada disetiap nafasmu, disetiap denyut nadimu. Jaga diri
dan berbahagialah bersama Dokter Arya, Lian. Aku sangat mencintaimu Lian.
Lyam Areka.
-----------------------------------------------------------Tamat--------------------------------------------------------
Sumber gambar : Kompasian.com, terminalduatiga.blogspot.com


No comments:
Post a Comment