Sumber gambar : Viva.co.id
Berbicara adalah suatu hal yang menjadi kebutuhan
dan kebiasaan bagi seluruh manusia. Perantara menggunakan indera manusia yaitu
mulut dan bagian didalamnya , manusia bisa berbicara dengan mengeluarkan suara
yang khas dan bunyi-bunyi dari bahasa.
Bahasa dipastikan sebagai sebuah media berkomunikasi.
Bahasa sebagai alat komunikasi berimplikasi bahwa kemahiran berbicara menjadi
tolok ukur seseorang dalam berkomunikasi. Kerangka berpikir ditunjukkan melalui
keruntutan bunyi-bunyi tuturan artikulasi ketika berbicara maupun memberikan
respon atas pembicaraan orang lain.
Berbicara
sebagai kegiatan komunikasi melibatkan sebuah proses berbicara silih berganti
antara pembicara dan lawan bicara. Artinya berbicara terjadi saling berbalas
gantian berbicara. Pada saat pembicara mengeluarkan tuturan, pendengar berperan
sebagai pendengar, dan sebaliknya pada saat pendengar mengambil alih kegiatan
berbicara, pembicara sebelumnya berubah fungsi menjadi penyimak.
Tujuan
dari manusia berbicara melalui sebuah bahasa bukan hanya untuk berkomunikasi
tetapi bisa juga mempengaruhi, membujuk, memberikan info, menghibur dan
lain-lainnya. Semua manusia yang tidak memiliki kelainan dalam berbicara bisa
menimbulkan dua jenis tipe.
Banyak
berbicara dan pandai berbicara. Pandai berbicara bisa disebutkan layaknya
Public Speaker seperti motivator, inspirator, dan lainnya. Berbicara
berdasarkan fakta, secara objektif, pengalaman, dan berbicara dengan
menggunakan sumber. Ucapan yang bisa dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan
beberapa jawaban dari responden mengenai perbedaan kedua defini diatas. Semuanya
memiliki kesamaan pendapat dan mengarah pada satu definisi. Banyak berbicara diartikan sebagai seseorang
yang banyak ngomong/ bicara tanpa tau dasar, bukti, fakta, kebanyakan bersifat
sok tau akan segala hal, arah dan hasil pembicaraan yang meragukan.
Sesungguhnya,
manusia bisa menjadi kedua bagian tersebut tergantung dalam situasi dan kondisi
apapun. Ada baiknya manusia menjaga lisannya dan berbicara sesuai fakta. Karena
segala hal yang kita perbuat di dunia akan dipertanggungjawabkan di kedepannya.
Sumber
Referensi:
Setyonegoro,
A. (2013). Hakikat, alasan, dan tujuan berbicara (dasar pembangun kemampuan
berbicara mahasiswa). Pena: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 2(2).

No comments:
Post a Comment