Sumber Gambar : TELAAH.id
Dunia
sedang digemparkan oleh pandemi Covid-19
tak terkecuali Indonesia. Virus corona adalah virus
yang tidak tampak dimata tetapi sangat bermain cantik. Ia bisa merenggut setiap
pasokan oksigen dari para korban terdampak virus ini. Tentunya, kejadian ini
menggemparkan masyarakat Indonesia bak tersambar petir seluruh kegiatan baik
sosial, pendidikan, ekonomi bahkan sistem peribadahan berubah drastis.
Sulitnya kehidupan masyarakat di Indonesia
membuat banyak masyarakat yang tidak mampu berjuang hidup menangisi keadaan dan
menahan kelaparan. Keadaan perekonomian yang masih banyak dikalangan menengah
kebawah membuat masyarakat terus bekerja diluar ruangan untuk mencari nafkah.
Tentunya kehidupan masyarakat diperkotaan dan dipedesaan jauh berbeda bukan
hanya dari segi lingkungan, segi pekerjaan bahkan segi pengetahuan mengenai
virus ini.
Kebutuhan
dan penyebaran informasi mengenai pandemi Covid-19 berbeda-beda yang
dipengaruhi oleh proses penyampaian informasi baik secara lisan maupun tulisan.
Dengan adanya televisi, diharapkan mampu menyalurkan informasi atau
perkembangan mengenai covid-19 ini tetapi itu tidak menjamin bahwa seluruh
kalangan masyarakat akan menonton atau menyaksikan acara di TV karena sudah
menjadi tradisi masyarakat Indonesia umumnya lebih suka melihat tontonan yang
tidak beredukatif dibandingkan yang beredukatif.
Perlunya
orang ketiga atau peran orang lain untuk memberikan informasi valid dari WHO
atau Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai penyalur, penggerak
bahkan pengedukasi kepada masyarakat dari segala umur dan segala jenjang.
Peran
orang lain atau orang ketiga bisa dimaksud sebagai tongkat estafet penyaluran
informasi dari pemerintah kepada masyarakat. Mahasiswa bisa menjadi tongkat
estafet bagi masyarakat untuk tetap berjalan bahkan berlari dalam arus
covid-19. Sebelum kita mengulas mengenai
mahasiswa, perlu diketahui menurut KBBI, mahasiswa adalah orang yang belajar
diperguruan tinggi, secara administrasi mereka terdaftar sebagai murid di
perguruan tinggi.
Orientasi
dari pengertian mahasiswa tidak hanya tercakup pada definisi tersebut.
Mahasiswa yang secara harfiah terdiri dari kata “ maha” yang berarti yang sudah
dianggap lebih besar, lebih luas dan lebih mendalam mengenai pengalaman dan
pengetahuan dibandingkan siswa tetapi hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa
siswa bisa saja memiliki pengetahuan yang luas dibandingkan mahasiswa.
Kedisplinan, kemandirian, ketaatan dan keuletan mahasiswa harus terlatih selama
masa menempuh pendidikan diperguruan tinggi dengan harapan setelah lulus bisa
menjadi generasi penerus bangsa dan saat ini sering disebutkan sebagai generasi
emas. Mahasiswa yang merupakan pemuda dan pemudi harus bekerja keras sekuat dan
profesional dalam menjalani tantangan arus bahkan pola perubahan pendidikan
pada kondisi atau situasi apapun.
Ir.Soekarno pernah mengemukakan kata-kata yang
sangat berharga yaitu “ Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru
dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Dari pepatah tersebut, mahasiswa sebagai
pemuda Indonesia bisa mengambil kutipan hidup yang berharga lebih dari harga
berlian. Mahasiswa sebagai agen perubahan (agent
of change) bisa menjadi teladan bagi orang disekitar lingkungan tempat tinggal,
lingkungan kampus, bahkan lingkungan masyarakat sekalipun.
Bayangkan 10 pemuda saja bisa mengguncangkan
dunia, apalagi jika seluruh pemuda atau pemudi Indonesia bersatu dalam
kebaikan, bersatu dalam memajukan pendidikan dan kesadaran bangsa Indonesia
akan terciptalah NKRI yang maju dan selangkah lebih dekat dengan kemajuan
bangsa yang nantinya akan terdampak pada aspek lainnya.
Pandemi
ini menyebabkan segala aspek dalam kehidupan manusia berubah sangat signfikan
dan sangat tidak dinamis. Khususnya di Indonesia, pemerintah mengeluarkan kebijakan stay at home, social
and physical distancing yang telah berlangsung selama kurun waktu ± 3 bulan dan
saat ini akibat respon realistis keadaan perekonomian di Indonesia saat PSBB
telah melahirkan kebijakan baru yaitu new normal. New Normal adalah suatu
kondisi yang harus dijalani dan masyarakat Indonesia diharapkan bisa
beradaptasi dengan keadaan tanpa
melanggar aturan atau protol kesehatan dari pemerintah. Kebijakan New Normal
ini dikeluarkan dalam Surat Edaran Menteri BUMN Nomor S-336/MBU/05/2020 tanggal
15 Mei 2020 tentang Antisipasi Skenario The New Normal.
Besar
harapan bangsa Indonesia agar berjalannya kebijakan baru ini tanpa harus
melahirkan korban-korban baru. Satu - kesatuan antara masyarakat, pemerintah,
aparat keamanan, dan tenaga medis sangat dibutuhkan. Mahasiswa sebagai cerminan
keadaan masa depan suatu bangsa sangat diperlukan perannya. Mahasiswa yang
dianggap sebagai kaum intelektual yang memiliki kemampuan dalam menganalisa dan
segi kognitif yang sangat luas diharapkan memberikan sumbangsihnya kepada
masyarakat. Mahasiswa bisa menjadi edukator yang memberikan informasi yang
akurat bukan hoax, membimbing masyarakat dan membangun kedasaran masyarakat
tanpa harus menggurui.
Dengan banyaknya
beredar teori-teori konspirasi, munculnya hoax yang menimbulkan kepanikan dalam
ruang lingkup masyarakat perlu ditolerir oleh mahasiswa. Masyarakat bukan hanya
orang tua bahkan para remaja, anak-anak atau seluruh manusia yang mendiami dan
bertempat tinggal di Indonesia adalah masyarakat. Mahasiswa bisa mengarahkan
dan mengedukasi tetapi memiliki dasar bukan sembarang mengedukasi haruslah
membaca artikel, jurnal bahkan harus mengikuti seminar-seminar online mengenai
Covid-19. Kegiatan relawan atau volunteer banyak dibutuhkan saat pandemi ini,
kita sebagai mahasiswa bisa mengikuti kegiatan tersebut agar berkumpul dan
berkomunikasi bersama orang-orang yang memiliki pengetahuan yang lebih mengenai
virus ini sehingga kita bisa mengedukasi dan mengarahkan masyarakat yang sesuai
dan berdasarkan fakta bukan ilusi walaupun berlangsung dalam jaringan.
Mahasiswa bisa memulai mengedukasi dari
sosial media yang dimiliki seperti Instagram, Whatsaap, Telegram dan lain-lain.
Dampaknya tidak bisa kita rasakan
langsung tetapi percayalah bahwa hanya sekedar mengedukasi melalui postingan
akan ada yang terketuk hati dan pikirannya. Selain mengedukasi dari sosial
media yang dimiliki, para mahasiswa juga bisa mengedukasi dimulai dari
lingkungan tempat tinggal atau kost dengan memberikan pengertian sebijak
mungkin tanpa membuat kepanikan. Sebagai contoh, seperti yang telah dialami
bahkan masih saja terjadi mengenai informasi palsu mengenai pengobatan bahkan
penyembuhan Covid-19 yang bisa disembuhkan dengan hanya meminum air hangat atau
teh dengan lemon, berjemur dibawah sinar
matahari bisa mematikan virus ini, bahkan menggunakan bawang putih untuk
mencegah virus ini. Informasi-informasi tersebut adalah palsu (hoax) dan telah tersebar secara berantai
baik dari sosial media bahkan lisan.


No comments:
Post a Comment