Search This Blog

Tuesday, October 6, 2020

Pengertian Protein, Fungsi Protein, Jenis Protein, Sumber-sumber Protein, Gejala dan Tanda kekurangan dan kelebihan Protein dan Analisis Protein

                                                                          PROTEIN

Sumber gambar : gooddoctor.co.id

 

I.                    PENGERTIAN PROTEIN

Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti " yang paling utama " ) adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor.

       Protein merupakan makromolekul yang terdiri dari rantai asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida membentuk rantai peptida dengan berbagai panjang dari dua asam amino (dipeptida), 4-10 peptida (oligopeptida), dan lebih dari 10 asam amino (polipeptida). Tiap jenis protein mempunyai perbedaan jumlah dan distribusi jenis asam amino penyusunnya. Berdasarkan susunan atomnya, protein mengandung 50-55% atom karbon (C), 20-23% atom oksigen (O), 12-19% atom nitrogen (N), 6-7% atom hidrogen (H), dan 0,2-0,3% atom sulfur (S).

Tersusun dari rangkaian asam amino dengan berat molekul yang relatif sangat besar, yaitu berkisar 8.000 sampai 10.000. protein yang tersusun dari hanya asam amino disebut protein sederhana. Adapun yang mengandung bahan selain asam amino, seperti turunan vitamin, lemak dan karbohidrat disebut protein kompleks. Secara biokimiawi, 20% dari susunan tubuh orang dewasa terdiri dari protein. Kualitas protein ditentukan oleh jumlah dan jenis asam aminonya.

Kualitas suatu protein salah satunya ditentukan oleh jenis dan jumlah asam amino penyusunnya. Asam amino terbagi menjadi dua yaitu, asam amino non esensial dan asam amino esensial. Asam amino yang dapat disintesis sendiri oleh tubuh disebut asam amino non esensial. Asam amino yang tidak dapat disintesis sendiri oleh tubuh dan harus diperoleh dari makanan disebut asam amino esensial.

Protein merupakan sumber asam amino yang terdiri dari unsur C, H, O, dan N. Protein berfungsi sebagai zat pembangun jaringan-jaringan baru, pengatur proses metabolisme tubuh dan sebagai bahan bakar apabila keperluan energi tubuh tidak terpenuhi oleh lemak dan karbohidrat. Protein tersusun dari berbagai asam amino yang masing-masing dihubungkan dengan ikatan peptida. Peptida adalah jenis ikatan kovalen yang menghubungkan suatu gugus karboksil satu asam amino dengan gugus amino asam amino lainnya sehingga terbentuk suatu polimer asam amino. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.

Tingkatan Struktur Protein

Menurut Fatchiyah, dkk (2011), protein dapat dikelompokkan menjadi 4 tingkatan struktur, yaitu:

a. Struktur primer

Struktur primer protein menggambarkan sekuens linear residu asam amino dalam suatu protein. Sekuens asam amino selalu dituliskan dari gugus terminal amino ke gugus terminal karboksil.

b. Struktur sekunder

        Struktur sekunder dibentuk karena adanya ikatan hidrogen antara hidrogen amida dan oksigen karbonil dari rangka peptida. Struktur sekunder utama meliputi α-heliks dan β-strands (termasuk β-sheets).

 

 

c. Struktur tersier

Struktur tersier menggambarkan rantai polipeptida yang mengalami folded sempurna dan kompak. Beberapa polipeptida folded terdiri dari beberapa protein globular yang berbeda yang dihubungkan oleh residu asam amino. Struktur tersier distabilkan oleh interaksi antara gugus R yang terletak tidak bersebelahan pada rantai polipeptida. Pembentukan struktur tersier membuat struktur primer dan sekunder menjadi saling berdekatan.

d. Struktur kuartener

Struktur kuartener melibatkan asosiasi dua atau lebih rantai polipeptida yang membentuk multisubunit atau protein oligomerik. Rantai polipeptida penyusun protein oligomerik dapat sama atau berbeda.

            

II. FUNGSI PROTEIN


       

Protein memiliki fungsi bagi tubuh manusia, di antaranya yaitu :

·         Perbaikan dan Pertumbuhan,

·         Sebagai Pembentuk Antibodi,

·         Sebagai Sumber Energi,

·         Membantu Metabolisme Tubuh, dan

·         Memfasilitasi Reaksi Kimia

Selain itu, menurut Ngili (2013),  protein memiliki fungsi-fungsi biologis sebagai berikut:

a. Katalis enzim

Enzim merupakan protein katalis yang mampu meningkatkan laju reaksi sampai 1012 kali laju awalnya.

b. Alat transport dan penyimpanan

Banyak ion dan molekul kecil diangkut dalam darah maupun di dalam sel dengan cara berikatan pada protein pengangkut. Contohnya, hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen. Zat besi disimpan dalam berbagai jaringan oleh protein ferritin.

c. Fungsi mekanik

Protein menjalankan perannya sebagai pembentuk struktur. Misalnya, protein kolagen yang menguatkan kulit, gigi, serta tulang. Membran yang mengelilingi sel dan organel juga mengandung protein yang berfungsi sebagai pembentuk struktur sekaligus menjalankan fungsi biokimia lainnya.

d. Pengatur pergerakan

Kontraksi otot terjadi karena adanya interaksi antara dua tipe protein filamen, yaitu aktin dan miosin. Miosin juga memiliki aktivitas enzim yang berfungsi  untuk memudahkan perubahan energi kimia ATP menjadi energi mekanik. Pergerakan flagela sperma disebabkan oleh protein.

e. Pelindung

Antibodi merupakan protein yang terlibat dalam perusakan sel asing yang masuk ke dalam tubuh seperti virus, bakteria, dan sel-sel asing lain.

f. Proses informasi

Rangsangan luar seperti sinyal hormon atau intensitas cahaya dideteksi oleh protein tertentu yang meneruskan sinyal ke dalam sel. Contoh protein rodopsin yang terdapat dalam membran sel retina.

III.                JENIS PROTEIN

Berdasarkan sumbernya protein dibagi menjadi dua jenis, yaitu ( Budianto, 2009 ) :

  • Protein Hewani.

Contoh daging sapi, daging ayam, susu, udang, telur, belut, ikan gabus dan lain -lain.

  • Protein Nabati.

Contoh jagung, kacang kedelai, kacang hijau, dan jenis kacang - kacangan lainnya yang mengandung protein tinggi.

Berdasarkan bentuknya, protein dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Protein Fibriler ( skleroprotein ), yaitu protein yang berbentuk serabut. Protein ini tidak larut dalam pelarut - pelarut encer, baik larutan garam, asam basa ataupun alkohol.
  • Protein Globuler, yaitu protein yang berbentuk bola. Protein ini larut dalam larutan garam dan asam encer, juga lebih mudah berubah di bawah pengaruh suhu, konsentrasi garam, pelarut asam dan basa dibandingkan protein fibriler.

Jenis-jenis Protein:

a.Kolagen, protein struktur yang diperlukan untuk membentuk kulit, tulang dan ikatan tisu.

b.Antibodi, protein sistem pertahanan yang melindungi badan daripada serangan penyakit.

c.Dismutase superoxide, protein yang membersihkan darah kita.

d.Ovulbumin, protein simpanan yang memelihara badan.

e.Hemoglobin, protein yang berfungsi sebagai pembawa oksigen

f.Toksin, protein racun yang digunakan untuk membunuh kuman.

g.Insulin, protein hormon yang mengawal aras glukosa dalam darah.

h.Tripsin, protein yang mencernakan makanan protein

Sifat-sifat Protein adalah Sifat fisikokimia setiap protein tidak sama, tergantung pada jumlah dan jenis asam aminonya. Protein memiliki berat molekul yang sangat besar sehingga bila protein dilarutkan dalam air akan membentuk suatu dispersi koloidal. Protein dapat dihidrolisis oleh asam, basa, atau enzim tertentu dan menghasilkan campuran asam-asam amino. Sebagian besar protein bila dilarutkan dalam air akan membentuk dispersi koloidal dan tidak dapat berdifusi bila dilewatkan melalui membran semipermeabel. Beberapa protein mudah larut dalam air, tetapi ada pula yang sukar larut. Namun, semua protein tidak dapat larut dalam pelarut organik seperti eter, kloroform, atau benzena.

Pada umumnya, protein sangat peka terhadap pengaruh-pengaruh fisik dan zat kimia, sehingga mudah mengalami perubahan bentuk. Perubahan atau modifikasi pada struktur molekul protein disebut denaturasi. Protein yang mengalami denaturasi akan menurunkan aktivitas biologi protein dan berkurannya kelarutan protein, sehingga protein mudah mengendap. Bila dalam suatu larutan ditambahkan garam, daya larut protein akan berkurang, akibatnya protein akan terpisah sebagai endapan. Apabila protein dipanaskan atau ditambahkan alkohol, maka protein akan menggumpal. Hal ini disebabkan alkohol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molekul protein; selain itu penggumpalan juga dapat terjadi karena aktivitas enzim-enzim proteolitik.


 

IV. SUMBER – SUMBER PROTEIN

Berikut adalah sumber – sumber protein, yaitu :

-          Telur

-          Susu dan Olahannya

-          Daging Unggas dan Daging Merah

-          Ikan

-          Kacang – Kacangan

Menurut Muchtadi (2010) sumber protein bagi manusia dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu sumber protein konvensional dan non-konvensional.

a. Protein konvensional

Protein konvensional merupakan protein yang berupa hasil pertanian dan peternakan pangan serta produk-produk hasil olahannya. Berdasarkan sifatnya, sumber protein konvensional ini dibagi lagi menjadi dua golongan yaitu protein nabati dan protein hewani.

1. Protein nabati, yaitu protein yang berasal dari bahan nabati (hasil tanaman), terutama berasal dari biji-bijian (serealia) dan kacang-kacangan. Sayuran dan buah-buahan tidak memberikan kontribusi protein dalam jumlah yang cukup berarti.

2. Protein hewani, yaitu protein yang berasal dari hasil-hasil hewani seperti daging (sapi, kerbau kambing, dan ayam), telur (ayam dan bebek), susu (terutama susu sapi), dan hasil-hasil perikanan (ikan, udang, kerang, dan lain-lain). Protein hewani disebut sebagai protein yang lengkap dan bermutu tinggi, karena mempunyai kandungan asam-asam amino esensial yang lengkap yang susunannya mendekati apa yang diperlukan oleh tubuh, serta  daya cernanya tinggi sehingga jumlah yang dapat diserap (dapat digunakan oleh tubuh) juga tinggi.

b. Protein non-konvensional

Protein non-konvensional merupakan sumber protein baru, yang dikembangkan untuk menutupi kebutuhan penduduk dunia akan protein. Sumber protein non-konvensional berasal dari mikroba (bakteri, khamir, atau kapang), yang dikenal sebagai protein sel tunggal (single cell protein), tetapi sampai sekarang produknya belum berkembang sebagai bahan pangan untuk dikonsumsi.

V.GEJALA DAN TANDA KEKURANGAN DAN KELEBIHAN PROTEIN

        Anjuran konsumsi, kecukupan protein pada bayi 0-6 bulan 2,2 gr/ kg  berat badan, bayi 6-12 bulan 2,0 gr/ kg berat badan. Anak 1-3 tahun 1,8 gr/ kg berat badan, anak 4-6 tahun 1,5 gr/kg berat badan, anak 7-10 tahun 1,2 gr/kg berat badan, remaja 11-14 tahun 1,0 gr/kg berat badan, remaja 15-18 tahun 0,9 gr/kg berat badan, dan dewasa lebih dari 18 tahun 0,8 gr/kg berat badan. Menurut Pedoman Umum Gizi Seimbang, anjuran konsumsi protein adalah 10-15 % dari energi total. Angka kecukupan gizi orang Indonesia adalah 60 gr/ hari.

Contoh gejala kekurangan protein adalah:

-          Imunitas Menurun

-          Hipotermia

-          Kabut Otak

-          Menstruasi tidak teratur

-          Marasmus

-          Kwashiorkor

-          Sulit Tidur

-          Pertumbuhan dan perkembangan jaringan yang tidak normal

-           kerusakan fisik dan mental pada anak

-           ibu hamil dapat mngalami keguguran, melahirkan bayi prematur

-          anemia.

Apa ya penyebabku obesitas?

Sudahkah kamu tahu:

        Adapun kelebihan protein dapat mengakibatkan kerja berat pada ginjal,terutaman pada bayi dan bayi yang lahir dengan berat badan rendah,serta hipertrofi (pembesaran) pada hati dan ginjal. Orang yang ingin mengurangi berat badan akan mengalami hambatan jika mengkonsumsi banyak protein karena makanan yang mengandung banyak protein biasanya juga mengandung banyak lemak sehingga menyebabkan obesitas. Kelebihan protein juga dapat merangsang pengeluaran kalsium tubuh.

           Saran pengolahan dari   makanan sumber protein biasanya dimasak dengan cara menggoreng, memanggang, merebus dan memasak dengan santan. Proses pemasakan dengan suhu tinggi dapat merusak protein. Suhu menggoreng biasanya mencapai 160oC. Pada saat menggoreng daging atau ikan usahakan agar suhu tidak melebihi titik asap ( suhu pada saat minyak goreng mengeluarkan asap) dan jangan terlalu kering atau gosong agar protein tidak rusak. Pada saat memanggang daging atau ikan usahakan jangan terlalu lama agar tidak timbul zat yang bersifat karsionogen (pencetus kanker). Kalau bisa, sebelum dipanggang, makanan diempukkan dulu dengan memasukkan kedalam microwave selama  2 menit untuk mengurangi lamanya waktu pemanggangan.

VI.ANALISIS PROTEIN

1.Analisis Kualitatif

a.Biuret: larutan protein dibuat alkalis dengan NaOH kemudian ditambahkan larutan CuSO4 encer. Uji ini untuk menunjukkan adanya senyawa senyawa yang mengandung gugus amida asam yang berada bersama gugus amida yang lain. Uji ini memberikan reaksi positif yaitu ditandai dengan timbulnya warna merah violet atau biru violet.

b.Ninhidrin: uji umum untuk protein yang spesifik untuk asam amino. Nihidrin merupakan reagen pengoksidasi kuat yang bereaaksi dengan seluruh α asam amino.

c.Reaksi Xantoprotein: larutan asam nitrat pekat ditambahkan dengan hati-hati ke dalam larutan protein. Setelah dicampur terjadi endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning apabila dipanaskan. Reaksi yang terjadi ialah nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein. Reaksi sini positif untuk protein yang mengandung tirosin, fenilalanin dan triptofan.

d.Reaksi Hopkins-Cole: Larutan protein yang mengandung triptofan dapat direaksikan dengan pereaksi Hopkins-Cole yang mengandung asam glioksilat. Pereaksi ini dibuat dari asam oksalat dengan serbuk magnesium dalam air. Setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole, asam sulfat dituangkan perlahan-lahan sehingga membentuk lapisan di bawah larutan protein. Beberapa saat kemudian akan terjadi cincin ungu pada batas antara kedua lapisan tersebut.

 

e.Reaksi Millon: Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna.

 

f. Reaksi Nitroprusida: Natriumnitroprusida dalam larutan amoniak akan menghasilkan warna merah dengan protein yang mempunyai gugus –SH bebas. Jadi protein yang mengandung sistein dapat memberikan hasil positif.

 

g. Reaksi Sakaguchi: Pereaksi yang digunakan ialah naftol dan natriumhipobromit. Pada dasarnya reaksi ini memberikan hasil positif apabila ada gugus guanidin. Jadi arginin atau protein yang mengandung arginin dapat menghasilkan warna merah.

2.Analisis Kuantitatif

a.Metode Kjehdahl: Metode ini merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein, dan senyawa yang mengandung nitrogen. Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis dengan katalisator yang sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat. Setelah pembebasan alkali dengan kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi.

Penetapan Kadar

Prosedur :

a. Timbang 1 g bahan yang telah dihaluskan, masukkan dalam labu Kjeldahl (kalau kandungan protein tinggi, misal kedelai gunakan bahan kurang dari 1 g).

b. Kemudian ditambahkan 7,5 g kalium sulfat dan 0,35 g raksa (II) oksida dan 15 ml asam sulfat pekat.

c. Panaskan semua bahan dalam labu Kjeldahl dalam lemari asam sampai berhenti berasap dan teruskan pemanasan sampai mendidih dan cairan sudah menjadi jernih. Tambahkan pemanasan kurang lebih 30 menit, matikan pemanasan dan biarkan sampai dingin.

d. Selanjutnya tambahkan 100 ml aquadest dalam labu Kjeldahl yang didinginkan dalam air es dan beberapa lempeng Zn, tambahkan 15 ml larutan kalium sulfat 4% (dalam air) dan akhirnya tambahkan perlahan-lahan larutan natrium hidroksida 50% sebanyak 50 ml yang telah didinginkan dalam lemari es.

e. Pasanglah labu Kjeldahl dengan segera pada alat destilasi. Panaskan labu Kjeldahl perlahan-lahan sampai dua lapis cairan tercampur, kemudian panaskan dengan cepat sampai mendidih.

f. Destilasi ditampung dalam Erlenmeyer yang telah diisi dengan larutan baku asam klorida 0,1N sebanyak 50 ml dan indikator merah metil 0,1% b/v (dalam etanol 95%) sebanyak 5 tetes, ujung pipa kaca destilator dipastikan masuk ke dalam larutan asam klorida 0,1N.

g. Proses destilasi selesai jika destilat yang ditampung lebih kurang 75 ml. Sisa larutan asam klorida 0,1N yang tidak bereaksi dengan destilat dititrasi dengan larutan baku natrium hidroksida 0,1N. Titik akhir titrasi tercapai jika terjadi perubahan warna larutan dari merah

menjadi kuning. Lakukan titrasi blanko.

Kadar Protein

Kadar protein dihitung dengan persamaan berikut :

Kadar =  x N NaOH x 14,008 x 100% x Fk

Keterangan :

Fk : faktor koreksi

Fk N : 16

 

b.Metode Lowry

Prosedur

Pembuatan reagen Lowry A :

Merupakan larutan asam fosfotungstat-asam fosfomolibdat dengan perbandingan (1 : 1)

Pembuatan reagen Lowry B :

Campurkan 2% natrium karbonat dalam 100 ml natrium hidroksida 0,1N. Tambahkan ke dalam larutan tersebut 1 ml tembaga (II) sulfat 1% dan 1 ml kalium natrium tartrat 2%.

Penetapan Kadar

a. Pembuatan kurva baku

Siapkan larutan bovin serum albumin dengan konsentrasi 300 μg/ml (Li). Tambahkan ke dalam masing-masing tabung 8 ml reagen Lowry B dan biarkan selama 10 menit, kemudian tambahkan 1 ml reagen Lowry

A. Kocok dan biarkan selama 20 menit. Baca absorbansinya pada panjang gelombang 600 nm tehadap blanko. (Sebagai blanko adalah tabung reaksi.

b. Penyiapan Sampel

Ambil sejumlah tertentu sampel protein yang terlarut misal albumin, endapkan dahulu dengan penambahan amonium sulfat kristal (jumlahnya tergantung dari jenis proteinnya, kalau perlu sampai mendekati kejenuhan amonium sulfat dalam larutan). Pisahkan protein yang mengendap dengan sentrifus 11.000 rpm selama 10 menit, pisahkan supernatannya. Presipitat yang merupakan proteinnya kemudian dilarutkan kembali dengan dapar asam asetat pH 5 misal sampai 10,0 ml. Ambil volume tertentu dan lakukan penetapan selanjutnya seperti pada kurva baku mulai dari penambahan 8 ml reagen Lowry A sampai seterusnya.

c.Metode Biuret(metode spektrofotometri visible)

Prosedur :

Pembuatan reagen Biuret :

Larutkan 150 mg tembaga (II) sulfat (CuSO4. 5H2O) dan kalium natrium tartrat (KNaC4H4O6. 4H2O) dalam 50 ml aquades dalam labu takar 100 ml. Kemudian tambahkan 30 ml natrium hidroksida 10% sambil dikocok-kocok, selanjutnya tambahkan aquades sampai garis tanda.

Pembuatan larutan induk bovin serum albumin (BSA):

Ditimbang 500 mg bovin serum albumin dilarutkan dalam aquades sampai 10,0 ml sehingga kadar larutan induk 5,0% (Li).

Penetapan kadar (Metode Biuret) :

Pembuatan kurva baku :

Dalam kuvet dimasukkan larutan induk, reagen Biuret dan aquades. Setelah tepat 10 menit serapan dibaca pada λ 550 nm terhadap blanko yang terdiri dari 800 μL reagen Biuret dan 200 μL aquades.

Cara mempersiapkan sampel :

Ambil sejumlah tertentu sampel protein yang terlarut misal albumin, endapkan dahulu dengan penambahan amonium sulfat kristal (jumlahnya tergantung dari jenis proteinnya, kalau perlu sampai mendekati kejenuhan amonium sulfat dalam larutan). Pisahkan protein yang mengendap dengan sentrifus 11.000 rpm selama 10 menit, pisahkan supernatannya. Presipitat yang merupakan proteinnya kemudian dilarutkan kembali dengan dapar asam asetat pH 5 misal sampai 10,0 ml. Ambil sejumlah μL larutan tersebut secara kuantitatif kemudian tambahkan reagen Biuret dan jika perlu tambah dengan dapar asetat pH 5 untuk pengukuran kuantitatif. Setelah 10 menit dari penambahan reagen Biuret, baca absorbansinya pada panjang gelombang 550 nm terhadap blanko yang berisi reagen Biuret dan dapar asetat pH 5. Perhatikan adanya faktor pengenceran dan absorban sampel sedapat mungkin harus masuk dalam kisaran absorban kurva baku.

d.Metode titrasi formol: Larutan protein dinetralkan dengan basa (NaOH) lalu ditambahkan formalin akan membentuk dimethilol. Dengan terbentuknya dimethilol ini berarti gugus aminonya sudah terikat dan tidak akan mempengaruhi reaksi antara asam dengan basa NaOH sehingga akhir titrasi dapat

diakhiri dengan tepat. Indikator yang digunakan adalah p.p., akhir titrasi bila tepat terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang tidak hilang dalam 30 detik.

e.metode spektrofotometri UV: Asam amino penyusun protein diantaranya adalah triptofan, tirosin dan fenilalanin yang mempunyai gugus aromatik. Triptofan mempunyai absorbsi maksimum pada 280 nm, sedang untuk tirosin mempunyai absorbsi maksimum pada 278 nm. Fenilalanin menyerap sinar kurang kuat dan pada panjang gelombang lebih pendek. Absorpsi sinar pada 280 nm dapat digunakan untuk estimasi konsentrasi protein dalam larutan. Supaya hasilnya lebih teliti perlu dikoreksi kemungkinan adanya asam nukleat dengan pengukuran absorpsi pada 260 nm. Pengukuran pada 260 nm untuk melihat kemungkinan kontaminasi oleh asam nukleat. Rasio absorpsi 280/260 menentukan faktor koreksi yang ada dalam suatu tabel.

Kadar protein mg/ml = A280 x  faktor koreksi x pengenceran

Gambar Alat Spektrofotometer:

VII.RANGKUMAN

Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti " yang paling utama " ) adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer asam amino. yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Protein memiliki fungsi bagi tubuh manusia, di antaranya yaitu perbaikan dan pertumbuhan, sebagai pembentuk antibodi, sebagai sumber energi, membantu metabolisme tubuh, dan memfasilitasi Reaksi Kimia. Berdasarkan sumbernya protein dibagi menjadi dua jenis yaitu protein hewani dan protein nabati. Sumber protein berasal dari protein konvensional dan protein non-konvensional. Gejala kekurangan protein adalah berkurangnya imunitas, anemia, pertumbuhan dan perkembangan yang tidak baik dan lain-lain. Sedangkan kelebihan protein bisa berdampak pada obesitas. Analisa yang digunakan mengenai protein dibagi dua yaitu analisa kualitatif dan analisa kuantitatif.

DAFTAR PUSTAKA

Winarno F.G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Budianto A K. 2009. Pangan, Gizi, dan Pembangunan Manusia Indonesia: Dasar- Dasar Ilmu Gizi. Malang: UMM Press.

Dewi,N.M.,(2010). Nutrition And Food Gizi Untuk Keluarga. Jakarta : Kompas

Awawaly,K.U.A., (2017). Protein Pangan Hasl Ternak dan Aplikasinya. UB: UB Press

Hardinsyah,Riyadi, H., Napitupulu,V., 2016. Kecukupan Energi Protein Lemak Dan Karbohidrat.(https://www.researchgate.net/publication/301749209)

http://repository.unimus.ac.id

https://rgmaisyah.files.wordpress.com/2008/12/analisis-protein.pdf


No comments:

Post a Comment

Tabel Periodik : Sejarah, Daftar Dobereiner Dan Newlands, Hukum Oktaf Newlands, Daftar Mendeleyev, Nomor Atom Dan Hukum Periodik, Sistem Periodik Modern, dan Klasifikasi Unsur-unsur

  HAI HAI HI , Apa kabar sobat?. Semoga tetap dalam keadaan santuy dan baik-baik ajah ya. Nah, kali ini kita akan membahas materi kimia lagi...