PROTEIN
I.
PENGERTIAN PROTEIN
Protein
(asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti
" yang paling utama " )
adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang
merupakan polimer dari monomer asam amino yang
dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul
protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang
kala sulfur serta fosfor.
Protein merupakan makromolekul yang terdiri dari rantai asam amino
yang dihubungkan oleh ikatan peptida membentuk rantai peptida dengan berbagai
panjang dari dua asam amino (dipeptida), 4-10 peptida (oligopeptida), dan lebih
dari 10 asam amino (polipeptida). Tiap jenis protein mempunyai perbedaan jumlah
dan distribusi jenis asam amino penyusunnya. Berdasarkan susunan atomnya,
protein mengandung 50-55% atom karbon (C), 20-23% atom oksigen (O), 12-19% atom
nitrogen (N), 6-7% atom hidrogen (H), dan 0,2-0,3% atom sulfur (S).
Tersusun
dari rangkaian asam amino dengan berat molekul yang relatif sangat besar, yaitu
berkisar 8.000 sampai 10.000. protein yang tersusun dari hanya asam amino
disebut protein sederhana. Adapun yang mengandung bahan selain asam amino,
seperti turunan vitamin, lemak dan karbohidrat disebut protein kompleks. Secara
biokimiawi, 20% dari susunan tubuh orang dewasa terdiri dari protein. Kualitas
protein ditentukan oleh jumlah dan jenis asam aminonya.
Kualitas suatu protein salah satunya ditentukan
oleh jenis dan jumlah asam amino penyusunnya. Asam amino terbagi menjadi dua
yaitu, asam amino non esensial dan asam amino esensial. Asam amino yang dapat
disintesis sendiri oleh tubuh disebut asam amino non esensial. Asam amino yang
tidak dapat disintesis sendiri oleh tubuh dan harus diperoleh dari makanan
disebut asam amino esensial.
Protein merupakan sumber asam amino
yang terdiri dari unsur C, H, O, dan N. Protein berfungsi sebagai zat pembangun
jaringan-jaringan baru, pengatur proses metabolisme tubuh dan sebagai bahan
bakar apabila keperluan energi tubuh tidak terpenuhi oleh lemak dan
karbohidrat. Protein tersusun dari berbagai asam amino yang masing-masing
dihubungkan dengan ikatan peptida. Peptida adalah jenis ikatan kovalen yang
menghubungkan suatu gugus karboksil satu asam amino dengan gugus amino asam
amino lainnya sehingga terbentuk suatu polimer asam amino. Protein berperan penting dalam
struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.
Tingkatan
Struktur Protein
Menurut
Fatchiyah, dkk (2011), protein dapat dikelompokkan menjadi 4 tingkatan
struktur, yaitu:
a. Struktur primer
Struktur
primer protein menggambarkan sekuens linear residu asam amino dalam suatu
protein. Sekuens asam amino selalu dituliskan dari gugus terminal amino ke
gugus terminal karboksil.
b. Struktur sekunder
Struktur
sekunder dibentuk karena adanya ikatan hidrogen antara hidrogen amida dan
oksigen karbonil dari rangka peptida. Struktur sekunder utama meliputi α-heliks
dan β-strands (termasuk β-sheets).
c. Struktur tersier
Struktur
tersier menggambarkan rantai polipeptida yang mengalami folded sempurna dan
kompak. Beberapa polipeptida folded terdiri dari beberapa protein globular yang
berbeda yang dihubungkan oleh residu asam amino. Struktur tersier distabilkan
oleh interaksi antara gugus R yang terletak tidak bersebelahan pada rantai
polipeptida. Pembentukan struktur tersier membuat struktur primer dan sekunder
menjadi saling berdekatan.
d. Struktur kuartener
Struktur kuartener melibatkan asosiasi dua atau lebih rantai polipeptida yang membentuk multisubunit atau protein oligomerik. Rantai polipeptida penyusun protein oligomerik dapat sama atau berbeda.
II. FUNGSI PROTEIN |
Protein memiliki fungsi bagi tubuh manusia, di
antaranya yaitu :
·
Perbaikan dan
Pertumbuhan,
·
Sebagai Pembentuk
Antibodi,
·
Sebagai Sumber
Energi,
·
Membantu Metabolisme
Tubuh, dan
·
Memfasilitasi Reaksi
Kimia
Selain itu, menurut Ngili (2013), protein memiliki fungsi-fungsi biologis sebagai berikut:
a. Katalis enzim
Enzim
merupakan protein katalis yang mampu meningkatkan laju reaksi sampai 1012 kali
laju awalnya.
b. Alat transport dan penyimpanan
Banyak ion
dan molekul kecil diangkut dalam darah maupun di dalam sel dengan cara
berikatan pada protein pengangkut. Contohnya, hemoglobin merupakan protein
pengangkut oksigen. Zat besi disimpan dalam berbagai jaringan oleh protein
ferritin.
c. Fungsi mekanik
Protein
menjalankan perannya sebagai pembentuk struktur. Misalnya, protein kolagen yang
menguatkan kulit, gigi, serta tulang. Membran yang mengelilingi sel dan organel
juga mengandung protein yang berfungsi sebagai pembentuk struktur sekaligus
menjalankan fungsi biokimia lainnya.
d. Pengatur pergerakan
Kontraksi
otot terjadi karena adanya interaksi antara dua tipe protein filamen, yaitu
aktin dan miosin. Miosin juga memiliki aktivitas enzim yang berfungsi untuk memudahkan perubahan energi kimia ATP
menjadi energi mekanik. Pergerakan flagela sperma disebabkan oleh protein.
e. Pelindung
Antibodi
merupakan protein yang terlibat dalam perusakan sel asing yang masuk ke dalam
tubuh seperti virus, bakteria, dan sel-sel asing lain.
f. Proses informasi
Rangsangan
luar seperti sinyal hormon atau intensitas cahaya dideteksi oleh protein
tertentu yang meneruskan sinyal ke dalam sel. Contoh protein rodopsin yang
terdapat dalam membran sel retina.
III.
JENIS PROTEIN
Berdasarkan
sumbernya protein dibagi menjadi dua jenis, yaitu ( Budianto, 2009 ) :
- Protein Hewani.
Contoh daging
sapi, daging ayam, susu, udang, telur, belut, ikan gabus dan lain -lain.
- Protein Nabati.
Contoh jagung,
kacang kedelai, kacang hijau, dan jenis kacang - kacangan lainnya yang mengandung protein tinggi.
Berdasarkan bentuknya,
protein dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
- Protein Fibriler ( skleroprotein ), yaitu
protein yang berbentuk serabut. Protein ini tidak larut dalam pelarut - pelarut
encer, baik larutan garam, asam basa ataupun alkohol.
- Protein Globuler, yaitu protein
yang berbentuk bola. Protein ini larut dalam larutan garam dan asam encer,
juga lebih mudah berubah di bawah pengaruh suhu, konsentrasi garam,
pelarut asam dan basa dibandingkan protein fibriler.
Jenis-jenis
Protein:
a.Kolagen,
protein struktur yang diperlukan untuk membentuk kulit, tulang dan ikatan tisu.
b.Antibodi,
protein sistem pertahanan yang melindungi badan daripada serangan penyakit.
c.Dismutase superoxide, protein yang membersihkan
darah kita.
d.Ovulbumin, protein simpanan yang memelihara
badan.
e.Hemoglobin, protein yang berfungsi sebagai
pembawa oksigen
f.Toksin, protein racun yang digunakan untuk
membunuh kuman.
g.Insulin, protein hormon yang mengawal aras
glukosa dalam darah.
h.Tripsin, protein yang mencernakan makanan
protein
Sifat-sifat Protein
adalah Sifat fisikokimia setiap protein tidak
sama, tergantung pada jumlah dan jenis asam aminonya. Protein memiliki berat
molekul yang sangat besar sehingga bila protein dilarutkan dalam air akan
membentuk suatu dispersi koloidal. Protein dapat dihidrolisis oleh asam, basa,
atau enzim tertentu dan menghasilkan campuran asam-asam amino. Sebagian besar
protein bila dilarutkan dalam air akan membentuk dispersi koloidal dan tidak
dapat berdifusi bila dilewatkan melalui membran semipermeabel. Beberapa protein
mudah larut dalam air, tetapi ada pula yang sukar larut. Namun, semua protein
tidak dapat larut dalam pelarut organik seperti eter, kloroform, atau benzena.
Pada umumnya,
protein sangat peka terhadap pengaruh-pengaruh fisik dan zat kimia, sehingga
mudah mengalami perubahan bentuk. Perubahan atau modifikasi pada struktur
molekul protein disebut denaturasi. Protein yang mengalami denaturasi akan
menurunkan aktivitas biologi protein dan berkurannya kelarutan protein,
sehingga protein mudah mengendap. Bila dalam suatu larutan ditambahkan garam,
daya larut protein akan berkurang, akibatnya protein akan terpisah sebagai
endapan. Apabila protein dipanaskan atau ditambahkan alkohol, maka protein akan
menggumpal. Hal ini disebabkan alkohol menarik mantel air yang melingkupi molekul-molekul
protein; selain itu penggumpalan juga dapat terjadi karena aktivitas
enzim-enzim proteolitik.
|
|
Berikut adalah sumber – sumber protein, yaitu :
-
Telur
-
Susu dan Olahannya
-
Daging Unggas dan Daging Merah
-
Ikan
-
Kacang – Kacangan
Menurut
Muchtadi (2010) sumber protein bagi manusia dapat digolongkan menjadi 2 macam,
yaitu sumber protein konvensional dan non-konvensional.
a. Protein konvensional
Protein
konvensional merupakan protein yang berupa hasil pertanian dan peternakan
pangan serta produk-produk hasil olahannya. Berdasarkan sifatnya, sumber
protein konvensional ini dibagi lagi menjadi dua golongan yaitu protein nabati
dan protein hewani.
1.
Protein nabati, yaitu protein yang berasal dari bahan nabati (hasil tanaman),
terutama berasal dari biji-bijian (serealia) dan kacang-kacangan. Sayuran dan
buah-buahan tidak memberikan kontribusi protein dalam jumlah yang cukup
berarti.
2.
Protein hewani, yaitu protein yang berasal dari hasil-hasil hewani seperti
daging (sapi, kerbau kambing, dan ayam), telur (ayam dan bebek), susu (terutama
susu sapi), dan hasil-hasil perikanan (ikan, udang, kerang, dan lain-lain).
Protein hewani disebut sebagai protein yang lengkap dan bermutu tinggi, karena
mempunyai kandungan asam-asam amino esensial yang lengkap yang susunannya
mendekati apa yang diperlukan oleh tubuh, serta
daya cernanya tinggi sehingga jumlah yang dapat diserap (dapat digunakan
oleh tubuh) juga tinggi.
b. Protein non-konvensional
Protein
non-konvensional merupakan sumber protein baru, yang dikembangkan untuk
menutupi kebutuhan penduduk dunia akan protein. Sumber protein non-konvensional
berasal dari mikroba (bakteri, khamir, atau kapang), yang dikenal sebagai
protein sel tunggal (single cell protein), tetapi sampai sekarang
produknya belum berkembang sebagai bahan pangan untuk dikonsumsi.
V.GEJALA DAN TANDA KEKURANGAN DAN KELEBIHAN PROTEIN
Anjuran konsumsi, kecukupan
protein pada bayi 0-6 bulan 2,2 gr/ kg
berat badan, bayi 6-12 bulan 2,0 gr/ kg berat badan. Anak 1-3 tahun 1,8
gr/ kg berat badan, anak 4-6 tahun 1,5 gr/kg berat badan, anak 7-10 tahun 1,2
gr/kg berat badan, remaja 11-14 tahun 1,0 gr/kg berat badan, remaja 15-18 tahun
0,9 gr/kg berat badan, dan dewasa lebih dari 18 tahun 0,8 gr/kg berat badan.
Menurut Pedoman Umum Gizi Seimbang, anjuran konsumsi protein adalah 10-15 %
dari energi total. Angka kecukupan gizi orang Indonesia adalah 60 gr/ hari.
Contoh gejala kekurangan protein adalah:
-
Imunitas Menurun
-
Hipotermia
-
Kabut Otak
-
Menstruasi tidak teratur
-
Marasmus
-
Kwashiorkor
-
Sulit Tidur
-
Pertumbuhan dan
perkembangan jaringan yang tidak normal
-
kerusakan fisik dan mental pada anak
-
ibu hamil dapat mngalami keguguran, melahirkan
bayi prematur
-
anemia.
|
Apa ya penyebabku obesitas? |
Adapun kelebihan protein dapat
mengakibatkan kerja berat pada ginjal,terutaman pada bayi dan bayi yang lahir
dengan berat badan rendah,serta hipertrofi (pembesaran) pada hati dan ginjal.
Orang yang ingin mengurangi berat badan akan mengalami hambatan jika
mengkonsumsi banyak protein karena makanan yang mengandung banyak protein
biasanya juga mengandung banyak lemak sehingga menyebabkan obesitas. Kelebihan
protein juga dapat merangsang pengeluaran kalsium tubuh.
Saran pengolahan dari makanan sumber protein biasanya dimasak dengan
cara menggoreng, memanggang, merebus dan memasak dengan santan. Proses
pemasakan dengan suhu tinggi dapat merusak protein. Suhu menggoreng biasanya
mencapai 160oC. Pada saat menggoreng daging atau ikan usahakan agar
suhu tidak melebihi titik asap ( suhu pada saat minyak goreng mengeluarkan
asap) dan jangan terlalu kering atau gosong agar protein tidak rusak. Pada saat
memanggang daging atau ikan usahakan jangan terlalu lama agar tidak timbul zat
yang bersifat karsionogen (pencetus kanker). Kalau bisa, sebelum dipanggang,
makanan diempukkan dulu dengan memasukkan kedalam microwave selama 2 menit untuk mengurangi lamanya waktu
pemanggangan.
VI.ANALISIS PROTEIN
1.Analisis Kualitatif
a.Biuret: larutan protein dibuat alkalis dengan NaOH
kemudian ditambahkan larutan CuSO4 encer. Uji ini untuk menunjukkan adanya
senyawa senyawa yang mengandung gugus amida asam yang berada bersama gugus
amida yang lain. Uji ini memberikan reaksi positif yaitu ditandai dengan
timbulnya warna merah violet atau biru violet.
b.Ninhidrin: uji umum
untuk protein yang spesifik untuk asam amino. Nihidrin merupakan reagen
pengoksidasi kuat yang bereaaksi dengan seluruh α asam amino.
c.Reaksi
Xantoprotein: larutan asam
nitrat pekat ditambahkan dengan hati-hati ke dalam larutan protein. Setelah
dicampur terjadi endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning apabila
dipanaskan. Reaksi yang terjadi ialah nitrasi pada inti benzena yang terdapat
pada molekul protein. Reaksi sini positif untuk protein yang mengandung
tirosin, fenilalanin dan triptofan.
d.Reaksi
Hopkins-Cole: Larutan protein
yang mengandung triptofan dapat direaksikan dengan pereaksi Hopkins-Cole yang
mengandung asam glioksilat. Pereaksi ini dibuat dari asam oksalat dengan serbuk
magnesium dalam air. Setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole, asam sulfat
dituangkan perlahan-lahan sehingga membentuk lapisan di bawah larutan protein.
Beberapa saat kemudian akan terjadi cincin ungu pada batas antara kedua lapisan
tersebut.
e.Reaksi
Millon: Pereaksi Millon adalah larutan
merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan
pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah
menjadi merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk
fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil
yang berwarna.
f. Reaksi
Nitroprusida:
Natriumnitroprusida dalam larutan amoniak akan menghasilkan warna merah dengan
protein yang mempunyai gugus –SH bebas. Jadi protein yang mengandung sistein
dapat memberikan hasil positif.
g. Reaksi
Sakaguchi: Pereaksi yang digunakan ialah naftol
dan natriumhipobromit. Pada dasarnya reaksi ini memberikan hasil positif
apabila ada gugus guanidin. Jadi arginin atau protein yang mengandung arginin
dapat menghasilkan warna merah.
2.Analisis Kuantitatif
a.Metode Kjehdahl: Metode ini merupakan metode yang sederhana
untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein, dan senyawa yang
mengandung nitrogen. Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis
dengan katalisator yang sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat.
Setelah pembebasan alkali dengan kuat, amonia yang terbentuk disuling uap
secara kuantitatif ke dalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi.
Penetapan Kadar
Prosedur :
a. Timbang 1 g bahan yang telah dihaluskan,
masukkan dalam labu Kjeldahl (kalau kandungan protein tinggi, misal kedelai
gunakan bahan kurang dari 1 g).
b. Kemudian ditambahkan 7,5 g kalium sulfat
dan 0,35 g raksa (II) oksida dan 15 ml asam sulfat pekat.
c. Panaskan semua bahan dalam labu Kjeldahl
dalam lemari asam sampai berhenti berasap dan teruskan pemanasan sampai
mendidih dan cairan sudah menjadi jernih. Tambahkan pemanasan kurang lebih 30
menit, matikan pemanasan dan biarkan sampai dingin.
d. Selanjutnya tambahkan 100 ml aquadest dalam
labu Kjeldahl yang didinginkan dalam air es dan beberapa lempeng Zn, tambahkan
15 ml larutan kalium sulfat 4% (dalam air) dan akhirnya tambahkan
perlahan-lahan larutan natrium hidroksida 50% sebanyak 50 ml yang telah
didinginkan dalam lemari es.
e. Pasanglah labu Kjeldahl dengan segera pada
alat destilasi. Panaskan labu Kjeldahl perlahan-lahan sampai dua lapis cairan
tercampur, kemudian panaskan dengan cepat sampai mendidih.
f. Destilasi ditampung dalam Erlenmeyer yang
telah diisi dengan larutan baku asam klorida 0,1N sebanyak 50 ml dan indikator
merah metil 0,1% b/v (dalam etanol 95%) sebanyak 5 tetes, ujung pipa kaca
destilator dipastikan masuk ke dalam larutan asam klorida 0,1N.
g. Proses destilasi selesai jika destilat yang
ditampung lebih kurang 75 ml. Sisa larutan asam klorida 0,1N yang tidak
bereaksi dengan destilat dititrasi dengan larutan baku natrium hidroksida 0,1N.
Titik akhir titrasi tercapai jika terjadi perubahan warna larutan dari merah
menjadi kuning. Lakukan titrasi blanko.
Kadar
Protein
Kadar protein dihitung dengan persamaan
berikut :
Kadar =
Keterangan :
Fk : faktor koreksi
Fk N : 16
b.Metode Lowry
Prosedur
Pembuatan reagen Lowry A :
Merupakan larutan asam fosfotungstat-asam fosfomolibdat
dengan perbandingan (1 : 1)
Pembuatan reagen Lowry B :
Campurkan 2% natrium karbonat dalam 100 ml
natrium hidroksida 0,1N. Tambahkan ke dalam larutan tersebut 1 ml tembaga (II)
sulfat 1% dan 1 ml kalium natrium tartrat 2%.
Penetapan Kadar
a. Pembuatan kurva baku
Siapkan larutan bovin serum albumin dengan
konsentrasi 300 μg/ml (Li). Tambahkan ke dalam masing-masing tabung 8 ml reagen
Lowry B dan biarkan selama 10 menit, kemudian tambahkan 1 ml reagen Lowry
A. Kocok dan biarkan selama 20 menit. Baca
absorbansinya pada panjang gelombang 600 nm tehadap blanko. (Sebagai blanko
adalah tabung reaksi.
b. Penyiapan Sampel
Ambil sejumlah tertentu sampel protein yang
terlarut misal albumin, endapkan dahulu dengan penambahan amonium sulfat
kristal (jumlahnya tergantung dari jenis proteinnya, kalau perlu sampai
mendekati kejenuhan amonium sulfat dalam larutan). Pisahkan protein yang
mengendap dengan sentrifus 11.000 rpm selama 10 menit, pisahkan supernatannya.
Presipitat yang merupakan proteinnya kemudian dilarutkan kembali dengan dapar
asam asetat pH 5 misal sampai 10,0 ml. Ambil volume tertentu dan lakukan
penetapan selanjutnya seperti pada kurva baku mulai dari penambahan 8 ml reagen
Lowry A sampai seterusnya.
c.Metode Biuret(metode spektrofotometri visible)
Prosedur :
Pembuatan reagen Biuret :
Larutkan 150 mg tembaga (II) sulfat (CuSO4.
5H2O) dan kalium natrium tartrat (KNaC4H4O6. 4H2O) dalam 50 ml aquades dalam
labu takar 100 ml. Kemudian tambahkan 30 ml natrium hidroksida 10% sambil
dikocok-kocok, selanjutnya tambahkan aquades sampai garis tanda.
Pembuatan larutan induk bovin serum albumin
(BSA):
Ditimbang 500 mg bovin serum albumin
dilarutkan dalam aquades sampai 10,0 ml sehingga kadar larutan induk 5,0% (Li).
Penetapan kadar (Metode Biuret) :
Pembuatan kurva baku :
Dalam kuvet dimasukkan larutan induk, reagen
Biuret dan aquades. Setelah tepat 10 menit serapan dibaca pada λ 550 nm
terhadap blanko yang terdiri dari 800 μL reagen Biuret dan 200 μL aquades.
Cara mempersiapkan sampel :
Ambil sejumlah tertentu sampel protein yang
terlarut misal albumin, endapkan dahulu dengan penambahan amonium sulfat
kristal (jumlahnya tergantung dari jenis proteinnya, kalau perlu sampai
mendekati kejenuhan amonium sulfat dalam larutan). Pisahkan protein yang
mengendap dengan sentrifus 11.000 rpm selama 10 menit, pisahkan supernatannya.
Presipitat yang merupakan proteinnya kemudian dilarutkan kembali dengan dapar
asam asetat pH 5 misal sampai 10,0 ml. Ambil sejumlah μL larutan tersebut
secara kuantitatif kemudian tambahkan reagen Biuret dan jika perlu tambah
dengan dapar asetat pH 5 untuk pengukuran kuantitatif. Setelah 10 menit dari
penambahan reagen Biuret, baca absorbansinya pada panjang gelombang 550 nm
terhadap blanko yang berisi reagen Biuret dan dapar asetat pH 5. Perhatikan
adanya faktor pengenceran dan absorban sampel sedapat mungkin harus masuk dalam
kisaran absorban kurva baku.
d.Metode
titrasi formol: Larutan protein
dinetralkan dengan basa (NaOH) lalu ditambahkan formalin akan membentuk
dimethilol. Dengan terbentuknya dimethilol ini berarti gugus aminonya sudah
terikat dan tidak akan mempengaruhi reaksi antara asam dengan basa NaOH
sehingga akhir titrasi dapat
diakhiri dengan tepat. Indikator yang
digunakan adalah p.p., akhir titrasi bila tepat terjadi perubahan warna menjadi
merah muda yang tidak hilang dalam 30 detik.
e.metode
spektrofotometri UV: Asam amino
penyusun protein diantaranya adalah triptofan, tirosin dan fenilalanin yang
mempunyai gugus aromatik. Triptofan mempunyai absorbsi maksimum pada 280 nm,
sedang untuk tirosin mempunyai absorbsi maksimum pada 278 nm. Fenilalanin
menyerap sinar kurang kuat dan pada panjang gelombang lebih pendek. Absorpsi
sinar pada 280 nm dapat digunakan untuk estimasi konsentrasi protein dalam
larutan. Supaya hasilnya lebih teliti perlu dikoreksi kemungkinan adanya asam
nukleat dengan pengukuran absorpsi pada 260 nm. Pengukuran pada 260 nm untuk
melihat kemungkinan kontaminasi oleh asam nukleat. Rasio absorpsi 280/260
menentukan faktor koreksi yang ada dalam suatu tabel.
Kadar protein mg/ml = A280 x faktor koreksi x pengenceran
Gambar Alat
Spektrofotometer:
VII.RANGKUMAN
Protein
(asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti
" yang paling utama " )
adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang
merupakan polimer dari monomer asam amino. yang
dihubungkan satu sama lain dengan ikatan
peptida. Protein memiliki fungsi bagi tubuh manusia, di antaranya yaitu perbaikan dan pertumbuhan, sebagai pembentuk antibodi, sebagai sumber energi, membantu metabolisme tubuh, dan memfasilitasi Reaksi
Kimia. Berdasarkan sumbernya protein dibagi menjadi dua jenis yaitu protein hewani
dan protein nabati. Sumber protein berasal dari protein konvensional dan
protein non-konvensional. Gejala kekurangan protein adalah berkurangnya
imunitas, anemia, pertumbuhan dan perkembangan yang tidak baik dan lain-lain.
Sedangkan kelebihan protein bisa berdampak pada obesitas. Analisa yang
digunakan mengenai protein dibagi dua yaitu analisa kualitatif dan analisa
kuantitatif.
DAFTAR PUSTAKA
Winarno F.G.
1991. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Budianto A
K. 2009. Pangan, Gizi, dan Pembangunan
Manusia Indonesia: Dasar- Dasar Ilmu Gizi. Malang: UMM Press.
Dewi,N.M.,(2010).
Nutrition And Food Gizi Untuk Keluarga.
Jakarta : Kompas
Awawaly,K.U.A., (2017). Protein
Pangan Hasl Ternak dan Aplikasinya. UB: UB Press
Hardinsyah,Riyadi, H., Napitupulu,V., 2016. Kecukupan Energi Protein Lemak Dan Karbohidrat.(https://www.researchgate.net/publication/301749209)
http://repository.unimus.ac.id
https://rgmaisyah.files.wordpress.com/2008/12/analisis-protein.pdf

No comments:
Post a Comment